-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Pemuda, Impian, Dan Indonesia

 

 


Oleh: Yossi Febila Putri, Universitas Andalas 

Seruan.id- Sejak ditetapkannya Keppres No 316 Tahun 1959, istilah Sumpah Pemuda mulai dikenalkan dan 28 Oktober ditetapkan sebagai hari lahir Sumpah Pemuda. Di tengah hiruk pikuk permasalahan yang ada saat ini, pemerintah mengusung tema “Bersatu & Bangkit” untuk memperingati sumpah pemuda di saat keadaan bangsa yang sedang tidak baik-baik saja. 

Menilik pada sejarah awalnya, sumpah pemuda hadir sebagai pemersatu para pemuda dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Hal ini merujuk pada perwujudan Bhinneka Tunggal Ika yang sangat patut diapresiasi dan tentunya juga harus disyukuri. Sumpah pemuda sebagai cerminan semangat membara yang harus dimiliki setiap pemuda dalam mewujudkan cita-cita bangsa  

Perjuangan mereka tidak mudah sama sekali. Diketahui bahwa kongres tersebut sangat dijaga ketat oleh Belanda, dan fakta yang menarik adalah kata “merdeka” dlarang keras untuk diucapkan. Dua hal tersebut saja tentunya sudah bisa membantu untuk membayangkan seberapa hebatnya para pemuda dahulu bisa menghasilkan Sumpah Pemuda. 

92 tahun sudah berlalu, bagaimana kabar pemuda Indonesia saat ini? 

Dengan kemudahan mengakses informasi saat ini, dapat kita lihat sudah berapa jauh tertinggalnya nilai-nilai pemuda yang mencerminkan suatu bangsa disaat ini. Perundungan, pelecehan, bahkan perbedaan yang dimiliki sudah menjadi sarana penghancur bangsa. Nilai-nilai semboyan negara Indonesia, sudah jauh pupus. Berbeda-beda tetapi tetap satu, sudah tidak pernah terlaksana dengan seharusnya.  

Kesadaran akan pentingnya memaknai nilai-nilai sumpah pemuda sudah luntur, dan jadilah masyarakat lemah mental, takut akan tantangan, saling menjatuhkan, dan memecah persatuan. Sebatas warna kesukaan saja sudah dapat membuat keributan. Apakah begini yang dicita-citakan para pemuda dahulu saat membuat sumpah pemuda? 

Sebagai pelaku pendidikan, hal terkecil sebesar meraih impian dan menjalankannya sesuai dengan aturan yang ada sudah menjadi sebuah contoh dari semangat sumpah pemuda yang diinginkan dalam perwujudan negara dan bangsa yang hebat. Mencari makna diri sendiri dan mencari apa yang akan dituju saja sudah menunjukan kita sebagai warga negara yang baik. 

Pendidikan adalah proses menemukan jati diri dengan mengaplikasikan nilai-nilai karakter baik yang akan bermanfaat untuk diri sendiri, lingkungan, bangsa, dan negara. Dengan pendidikan membuat kita ebih teratur mencari arah yang akan dituju. Mengetahui bagaimana kemampuan diri, kelemahan, sehingga dapat menemukan titik temu dalam sebuah rancangan masa depan yang lebih baik. 

Imipan-impian yang dipunyai oleh penerus bangsa akan dijadikan sebagai cerminannya. Sebagai wajah negara yang dilihat oleh dunia. Bagaimana pemudanya melesat maju meraih mimpi, menciptakan sebuah gagasan untuk bangsa, dan mengembangkan nilai-nilai karakter sumpah pemuda dalam menjalankan impian tersebut tentunya jadi hal yang patut dipertontonkan nantinya. Dan ini dapat dilihat dari bagaimana pendidikan suatu bangsa.  

Sayangnya, saat ini pendidikan hanya dianggap sebagai “syarat” untuk hidup. Nilai-nilai yang harusnya kita kembangkan saat dalam masa pendidikan sudah terkikis. Belajar dianggap hal yang melelahkan dan menyusahkan. Padahal pengembangan diri saat usia produktif adalah hal yang penting. Dalam beberapa tahunke depan, pemuda saat ini adalah tonggak kehidupan bangsa. Dan bagaimana bangsa bisa berdiri dengan kokoh saat tonggaknya saja sudah hampir rubuh? 

Menurut hitungan dari kemendikbud.go.id dalam tahun 2020-2035 Indonesia akan berada di era langka yang disebut Bonus Demografi. Dimana jumlah usia produktifnya berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa dengan total 64% dari jumlah penduduk Indonesia. Melihat fakta ini, harusnya semangat juang untuk mengasah kemapuan dan memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya harus dimiliki setiap pemuda.  

Tanpa terhalang dengan masalah kompleks yang dimiliki saat ini, semangat-semangat tersebut jangan sampai pudar. Kemudahan dalam mengakses apapun, kapanpun, dan dimanapun dapat dijadikan sebagai sarana menambah kemampuan diri.  

Mengasah dan mengembangkan skill yang dimiliki dirasa sangat mudah tentunya dengan banyaknya penyedia jasa layanan pengetahuan baik melalui tulisan, foto, maupun video sudah berjamur di dunia maya.  

Menambah wawasan bela negara dalam uaya menciptakan rasa cinta kepada bangsa juga harus dilakukan dengan segala kemudahan tersebut. Hal ini akan menjadi kunci dalam bagaimana kamu memandang bangsamu ke depannya. 

Dengan begitu sikap nilai sumpah pemuda sudah dapat kita jalankan dengan berpegang pada aturan yang ada. Jangan sampai bangsa kita runtuh karena pemuda-pemuda yang dahulu dibanggakan oleh Soekarno. Berbenahlah, belajar, raih impian, maka wajah bangsa dan pemudanya sudah dapat menjadi identitas Indonesia.  

Related Posts
egip satria eka putra
Suka mengoleksi buku dan menulis. Mengoleksinya saja, sedang membacanya tidak.

Related Posts

Post a Comment