-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Refleksi Hari Pahlawan, Soekarno dan Spirit Nasionalisme

Oleh : Naufal Jihad
Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

Pada 10 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang peristiwa pertempuran di Surabaya 75 tahun silam yang merupakan perang fisik pertama setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Kalimat tersebut selalu mengingatkan kita untuk selalu mengenang jasa para pahlawan. Hari yang sangat spesifik dan mengandung makna historis sangat dalam bagi bangsa ini. Banyak nyawa yang gugur demi mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan yang baru saja diperoleh. Semua itu telah tercatat dalam buku-buku sejarah ataupun yang dilupakan seiring kemajuan zaman, akan terus dikenang, dihormati, diteladani menjadi percikan-percikan semangat kebangsaan, dengan gelar pahlawan. 

Peringatan hari pahlawan juga dianggap sebagai momentum yang tepat untuk merayakan nasionalisme, baik lewat seremoni atau aktivitas sehari-hari. Akan tetapi gempuran budaya hedonis dan tontonan sistem yang korup telah menjepit generasi muda dalam kondisi yang sulit dielakkan. Remaja kehilangan orientasinya. Gaya hidup hedonis dan budaya negatif yang diserap dari barat telah menjadi trendsetter. Kita memang tidak dapat menafikan globalisasi yang telah mengubah perilaku generasi muda Indonesia. Pada akhirnya keseluruhan hari-hari nasional yang diperingati di Indonesia hanya menjadi seremonial dan rutinits tahunan bersama, tanpa adanya pemahaman dan pemaknaan yang mendalam. Setiap pelaksanaan upacara peringatan, hanya dibacakan pidato birokratif yang bahkan para pejabat tersebut tidak membuatnya sendiri. 

Idealnya dari makna pahlawan adalah generasi-generasi yang tahu arti, mengerti akan warisan cita-cita para pendiri bangsa. Karena tiap pemikiran mereka adalah nafas yang meresap memenuhi interaksi antar sel. Menjadi sebuah prinsip hidup yang kemudian di implementasikan dengan penuh tanggungjawab pada diri, keluarga dan negara. Hal-hal inilah yang harusnya tercermin dari setiap masa tumbuhnya generasi bangsa. Sejarah dipahami secara utuh, tak ada yang perlu disembunyikan, biarlah konspirasi jadi konsumsi publik, biarlah yang benar katakan benar dan yang salah mengakulah karena itu semua sejarah, kita harus bersama-sama mengambil maknanya bukan menyalahkannya. Sejarah ada untuk membimbing kita menuju masa depan. 

Warisan Kepahlawan Soekarno
Sebagai sosok proklamator bangsa dan pejuang kemerdekaan nasional, dikenal sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, beliau lebih akrab dipanggil Bung Karno. Mungkin sampai sekarang beliau adalah tokoh yang paling banyak dikagumi orang di Indonesia. Sosok Soerkarno yang lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Blitar Jawa Timur. Ketika Soekarno kecil, ia tidak tinggal bersama dengan orang tuanya yang berada di Blitar. Ia tinggal bersama dengan kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur. Soekarno bahkan sempat mengenyam sekolah disana walau tidak sampai selesai, karena harus ikut bersama dengan orang tuanya yang pada waktu itu pindah ke Mojokerto. Kemudian Soekarno mengenal dunia perjuangan yang akhirnya membuatya menjadi pejuang sejati, ketika beliau bersekolah di HBS tahun 1915, saat itu Soekarno tinggal dirumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau Hos Cokroaminoto yang merupakan sahabat ayahnya.

Dalam catatan sejarah, Soekarno sering dinyatakan sebagai pencipta arus utama yang membentuk karakter dasar nasionalisme Indonesia. Namun hal penting yang perlu diperjelas disini adalah, apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Soekarno sebagai nasionalisme itu? Apakah definisi soekarno tentang nasionalisme itu sebatas bermakna mencintai Tanah Air Indonesia, sebagaimana lazimnya dipersepsikan secara umum. Di mata Soekarno istilah nasionalisme sebagai sebuah kosa kata politik belum memadai sebagai sebuah kerangka berpikir untuk menjelaskan sikap kebangsaan Indonesia sesungguhnya. Cara pandang Soekarno yang menggunakan perspektif dialektika dalam merumuskan nasionalisme Indonesia merupakan unsur penting yang justru membuat konstruksi gagasannya berbeda secara signifikan dari pemahaman konvensional yang sering mengambil bentuk ekspresi yang sebatas bermakna cinta Tanah Air. 

Nasionalisme dalam pandangan Soekarno, dapat membentuk karakter percaya pada kemampuan diri sendiri serta menumbuhkan ikatan solidaritas, bukan nasionalisme yang sempit, reaktif dan emosional. Sejalan dengan pandangan Mahatma Gandhi tentang humanisme sebagai kandungan utama nasionalisme. Soekarno dengan rumusannya sendiri menyatakan bahwa sikap kebangsaan Indonesia adalah sosio-nasionalisme. Artinya bahwa nasionalisme yang mencari selamatnya perikemanusiaan. Sehingga jelas bahwa nasionalisme Indonesia yang digagas oleh Soekarno haruslah nasionalisme yang bertujuan mencapai kebahagian umat manusia dan bukannnya nasionalisme yang mengagung-agungkan negeri ini di kancah internasional saja. 

Nasionalisme dalam konteks kekinian
Memang tidak mudah memberikan pandangan sebagai petunjuk yang pasti untuk menguraikan dan menjelaskan secara runtut perkembangan nasionalisme. Akan tetapi dalam konteks kekinian, Indonesia tidak lagi mementingkan nasionalisme politik, tetapi yang sangat dibutuhkan adalah nasionalisme cultural. Karena dalam sejumlah kasus, nasionalisme cultural ini muncul berbarengan dengan meningkatnya sentimen etnisitas, bahkan sentimen keagamaan. Sebagaimana yang dikatakan Nodia “nasionalisme ibarat satu koin yang memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah politik, dan sisi yang lainnya adalah etnik”. Hubungan kedua elemen ini, ibarat jiwa politik yang mengambil tubuhnya di dalam etnisitas. Kalau model nasionalisme seperti ini muncul dari dalam tubuh sebuah bangsa, maka itulah yang dinamakan chauvinisme dan fasisme yang sangat berbahaya.

Namun demikian, Indonesia dalam pertumbuhan nasionalismenya, etnisitas tidak sempat mengalami kristalisasi yang menjadi dasar terbentuknya nasionalisme. Yang terpenting diantara faktor tersebut adalah agama dan kesadaran tentang pengalaman kesejarahan yang sama. Pengalaman Indonesia, kemajemukan etnisitas berserta potensi konfliknya, dapat diredam dan dijinakan oleh islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia, yang kemudian menjadi “supra indentity” yang menjadi fokus kesetiaan mengatasi identitas etnisitas. Kedatangan dan perkembangan islam sebagai peradaban baru di Indonesia, tidak hanya menyatukan berbagai kelompok etnis dalam perspektif keagamaan dan dunia yang sama, tetapi juga dalam aspek penting lainnya. 

Akhirnya, perlu usaha keras merevitalisasi nasionalisme sebagai sebuah refleksi pengalaman sejarah di masa modern sekarang ini. banyak yang menilai baik itu semangat kebangkitan nasional maupun semangat nasionalisme tengah mengalami erosi secara signifikan. Nasionalisme harus tetap menjadi indikator jati diri sebuah bangsa. Di tengah persaingan dunia global yang kompetitif, justru nasionalisme harus direvitalisasi kembali untuk terus digelorakan oleh warga negara. Nasionalisme yang harus dibangkitkan kembali adalah nasionalisme yang ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa. Dengan lebih dulu harus mengikis habis korupsi, membangun supremasi hukum, membasmi ketidakadilan, sekaligus membendung pengaruh kapitalisme dan melenyapkan kekuasaan yang berkongkalikong dengan kejahatan korporasi global. Karena, semua ini merupakan akar lunturnya semangat nasionalisme yang kini sangat mempengaruhi generasi muda.
Related Posts

Related Posts

Post a Comment