-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Uji Klinis Terapi Plasma Indonesia Sudah Fase 2-3, Begini Target Selanjutnya

Ilustrasi

Perkembangan terapi plasma konvalesen di Indonesia sudah memasuki fase 2-3 yaitu menilai efikasi atau manfaat (khasiat) dari pemberian plasma konvalesen terhadap pasien Covid-19.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional di Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof dr David H Muljono SpPD FINSASIM FAASLD PhD.

Dijelaskan oleh David, terapi plasma konvalesen fase 1 yakni menguji keamanan dari pemberian terapi tersebut telah selesai dilakukan. Meskipun pedoman protokol pemberian terapi plasma konvalesen kepada pasien Covid-19 ini belum ada sampai sekarang.

Pemberian plasma konvalesen pernah dipakai sejak seabad yang lalu, di antaranya sejak adanya pandemi flu spanyol, pandemi ebola, dan pandemi flu burung.

"Dan terbukti bahwa plasma tersebut aman dan cukup baik, tapi hasilnya belum ada pola untuk bisa dibuat sebagai pedoman yang umum," kata David dalam Kick-off Meeting Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan Covid-19 melalui kanal Youtube BalitbangkesTV, Selasa (8/9/2020).

Target efikasi uji klinik fase 2-3
David menuturkan, dari pengujian yang telah dilakukan di China dan Amerika, terapi plasma konvalesen ini telah terbukti aman dan cukup baik diberikan kepada pasien Covid-19.

Untuk di Indonesia sendiri, sudah dimulai juga uji klinik fase 1 untuk pengujian keamanan telah dilakukan di RS Angkatan Darat Gatot Subroto terhadap beberapa pasien dan telah selesai, dan saat ini sedang dalam pelaporan.

Serta, dilakukan juga oleh Kemeristek/BRIN bekerjasama dengan 8-10 rumah sakit juga sedang melakukan pengujian klinik fase 1 terapi plasma konvalesen.

"Tetapi, jika dilihat dari sisi lain yaitu manfaat, efikasi (khasiat), itu timbul pertanyaan," kata David.

Efikasi ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana pasien bisa sembuh, berapa tingkat kesembuhan dari pemberian terapi plasma konvalesen, dan pasien mana yang bisa sembuh.

Dalam uji klinik yang dilakukan ini pula diharapkan plasma konvalesen sebagai suatu produk ini perlu diinvestigasi lebih lanjut untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar sebagai target pemberian terapi.

Di antaranya seperti, berapa dosis yang paling tepat untuk diberikan, bagaimana cara pemberian terapi, kapan waktu (timing) yang tepat untuk diberikan, dan juga jadwal yang baik untuk pasien diberikan terapi.

"Ini yang menjadi tugas dan dinantikan hasilnya diseluruh dunia termasuk Indonesia," ujarnya.

Sehingga, tim penyusun akan menyusun protokol terapi plasma konvalesen dengan memperhatikan laporan-laporan terkait dari berbagai negara di dunia, dengan regulator yang ada, serta mempertimbangkan clinical trial yang sudah ada dan perlu dipelajari protokolnya.

"Ada sebagian (negara) sudah selesai (protokol terapi plasma konvalesen) dengan poin timing menjadi yang penting. Ada yang sudah, tetapi diberikan hanya kepada kelompok (pasien Covid-19) yang kritis," ucap dia.

Belajar dari protokol dan juga mekanisme cara pemberian terapi plasma konvalesen ini, maka Indonesia harus benar-benar mempertimbangkan efikasi (manfaat khasiat) dan safety (keamanan) di atas kecepatan implementasi terapi ini.

Protokol yang dibuat juga diharapkan sudah mampu menjawab semua pertanyaan dasar terhadap efektivitas keberhasilan terapi plasma konvalesen bagi pasien terinfeksi Covid-19 dalam kategori sedang dan berat.

Adapun, empat rumah sakit yang memulai uji klinik fase 2-3 terapi plasma konvelesen serentak hari ini adalah RS Angkatan Laut Dr Ramelan Surabaya, RS Fatmawati Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung dan RS Umum Daerah Sidoarjo Jawa Timur.

Sumber: Kompas.com
Related Posts

Related Posts

Post a Comment