-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Singapura Resmi Resesi, Berita Buruk Juga untuk Indonesia, Mengapa ?

Negara tetangga Singapura melaporkan bahwa Ekonomi negaranya resmi resesi. Laporan di kuartal tahun 2020 memperlihatkan bahwa ekonomi anjlok 41,2% secara kuartalan dan 12,6% secara tahunan. Hal ini berakibat pada bursa asia yang berjatuhan dan nilai tukar rupiah pun turut tersungkur.

Arti dari resesi sendiri adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Resesi terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, meningkatnya tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan kontraksi ukuran pendapatan dan manufaktur dalam periode waktu yang panjang (Kompas.com). 

Pandemi Covid-19 mengharuskan warga dari setiap negara agar menjaga jarak dan berdiam dirumah untuk menekan angka pertambahan. Dampak yang ditimbulkan dari karantina wilayah yang diberlakukan dari 7 April hingga 1 Juli telah menimbulkan kerusakan yang parah pada ekonomi. Terutama bagi negara Singapura yang sangat bergantung pada perdagangan. Dalam setahun penuh kementerian dan industri Singapura memperkirakan ekonomi kontraksi sebesar 7 – 4%.

Resesi Ini akan menjadi yang terburuk bagi Negara Singapura sejak merdeka tahun 1965. Dampak resesi ini pada perdagangan tadi pagi bursa singapura sempat anjlok hingga hampir 1%. Kontraksi bursa saham juga terjadi di bursa Hongkong, Korea hingga China. Sedangkan nilai tukar rupiah juga melemah di kurs tengah meski dipasar spot harganya masih turun naik.

Suatu negara bisa dikatakan mengalami resesi ketika PDB (Produk Domestik Bruto) minus dalam 2 kuartal beruntun. Sehingga, Singapura sah mengalami resesi. Singapura terakhir kalinya mengalami resesi pada tahun 2008 saat krisis finansial global.

Lalu apakah dampak yang ditimbulkan bagi Indonesia ?

Negara tetangga Singapura merupakan mitra strategis bagi Indonesia, sehingga muncul kecemasan akan timbulnya resesi ke Tanah Air.

Tidak hanya itu, Singapura juga merupakan pasar ekspor non-migas Indonesia, pada periode Januari-April, nilai ekspor non-migas ke sebesar US$ 3,53 miliar, sementara impor US$ 2,94 miliar. Resesi yang dialami Singapura tentunya mengurangi nilai ekspor, begitu juga impor.

Oleh karena itu, perekonomian Indonesia juga diramal akan mengalami kontraksi di kuartal II-2020.

Tanggapan dari Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bahwa ia sebelumnya telah memperkirakan ekonomi April-Juni akan terkontraksi dalam kisaran -3,5% hingga -5,1%. Agar terhindar dari resesi, PDB perlu tumbuh positif di kuartal III-2020 nanti.

Akan tetapi, PDB kuartal III-2020 diramal di kisaran -1% sampai 1,2%, yang mana dapat diartikan bahwa risiko resesi di Indonesia masih tetap ada.
Related Posts

Related Posts

Post a Comment