-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

GILA! Harga Rumah di Indonesia lebih Mahal Dibanding New York dan Singapura

(Gambar: Wikipedia

Memiliki rumah di kota-kota besar adalah idaman setiap orang, baik itu anak muda, maupun orang tua. Bagaimana tidak, akses dan fasilitas yang tersedia di kota-kota besar memang sangat berbeda jauh dengan yang ada di kota-kota kecil terlebih yang ada di desa-desa, bagai langit dan bumi.

Namun, apakah sobat setia Seruan.id tahu bagaimana perbandingan harga rumah di Indonesia dengan harga rumah di negara-negara maju top dunia?

Jika dipikir-pikir pasti harga rumah di Indonesia bakal jauh lebih murah jika dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika, Inggris atau bahkan negara tetangga maju seperti Singapura.

Nyatanya berbanding terbalik, harga rumah di Indonesia jauh lebih mahal dibanding negara-negara maju tersebut. Kali ini bisa kita lihat, Jakarta sebagai perbandingannya.

Harga rumah di Ibu Kota Jakarta jauh lebih mahal dibanding harga rumah di kota-kota dunia lainnya, seperti New York, Singapura,Tokyo, bahkan kota-kota besar seperti, London, Bangkok, dan Kuala Lumpur.

Perbandingan ini dibuat berdasarkan rasio perhitungan harga rumah terhadap pendapatan (income) menurut riset World Bank Time to Act 2019 yang dikutip dari Jakarta Property Institute.

Menurut Wendy Haryanto selaku Executive Direktor Jakarta Property Institute, tingginya harga rumah di Jakarta diakibatkan oleh rumit dan mahalnya ongkos birokrasi yang ada.

Ongkos birokrasi tinggi yang menyebabkan harga rumah demikian mahal dan terus naik,” terang Wendy dalam konferensi virtual pada, Kamis (09/07/2020).

Menurut pemaparannya, ongkos birokrasi tersebut mengcakup proses perizinan seperti izin mendirikan bangunan (IMB) dan rendahnya peringkat kemudahan berbisnis (ease of doing business).

Selain mahalnya ongkos birokrasi, ada faktor lain yang juga mempengaruhi mahalnya harga rumah di Jakarta;

Adanya beberapa pembatasan terhadap izin membangun, terutama dalam hal memperluas atau menambah koefisien lantai bangunan (KLB) yang belum mengikuti dinamika aktual dan kebutuhan pasar.

Jika para pengembang ingin memenuhi pasar dengan membangun properti tertentu, mereka harus membayar konpensasi dengan harga tinggi,” tambah Wendy.
Related Posts
@sevencorner
Estoy hablando por escrito! Mulutku bungkam, jemariku bicara!

Related Posts

Post a Comment