-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Merindukan Sastra Yang Menggugah Kesadaran

Oleh : Yetri Ermi Yenti

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas) 

Sastra adalah harapan yang bisa merawat kebudayaan di muka bumi  ketika politik, ekonomi dan hukum tak mampu memeliharanya, saya yakin  sastra adalah salah satu cara kontrol sosial. Hal yang menarik dari sastra ialah selalu diperbincangkan dan riuh maupun sunyi.  Sastra memang selalu menarik untuk diperbincangkan karena sastra selalu memiliki hubungan kontekstual dengan persoalan masa kini. 

 Dalam catatan sejarah  sastra selalu diperebutkan oleh kekuasaan Orde Baru, Orde Lama, dan Orde Reformasi  hingga sekarang. Hal ini memperjelas bahwa sastra bukan sebuah teori yang dapat di praktekkan  seketika. Ia ada dalam setiap gerak hidup dan di hidupkan oleh sesuatu yang tidak disadari namun terjadi.

Jadi sastra disempurnakan oleh  realitas sosial dan yang paling penting untuk dipahami bahwa sastra tidak lahir begitu saja tanpa pemikiran intelektual, ia lahir dari sebuah cermin kehidupan. Sebuah karya sastra pada umumnya tidak hanya menyuguhkan  rangkaian kata dan bahasa yang estetis serta segar, tetapi juga harus memuat makna yang mendalam, baik yang tersirat ataupun sengaja ditegaskan oleh penulisnya.

 Karya sastra selain bisa memberikan suatu pengalaman batin yang baru, juga menyadarkan pembaca pada nilai- nilai esensial kehidupan. Karena sastra tidak hanya selalu menjadi hiburan dari rasa sunyi penyair,  tetapi cermin kehidupan sebagai refleksi masyarakat dalam realitas sosial.

Saya ingin mengulas puisi almarhum WS Rendra beliaulah yang terkenal sebagai pelopor sastra mimbar. Sebagai bentuk kesadaran penyair dalam memberontak terhadap perilaku ketidak adilan di negeri ini dengan mengunakan bahasa yang jernih, lugas, dan terukur. Rendra mampu mencerminkan kenyataan yang tengah terjadi, syairnya  menjadi penyambung lidah masyarakat yang tertindas dan ingin melakukan perlawanan. 

Karya – karya Rendra seakan menjadi potret buram perjalan sejarah  bangsa Indonesia. Kegelisahannya diimplementasikan dalam bentuk puisi,  ia mencoba membidik kondisi pada saat itu, yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan kondisi saat sekarang  dengan sajaknya sempat mengantarkannya ke sel tahanan pada zaman rezim Orde Baru dan menjadi puisi wajib mahasiswa di era demonstrasi tahun 80-an.

 Salah satu puisi Rendra adalah” sajak burung- burung kondor “ yang mengambarkan sebuah representasi dari semangat perubahan yang harus membentur batu- batu kemapanan. Sajak burung kondor memiliki makna keadaan petani yang jauh dari kata sejahtera. Hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan kerja mereka.  

Sejatinya  petani dan nelayan bukan hanya pemenuhan kebutuhan pangan atau bahan industri manufaktur, tetapi menyerap  juga tenaga kerja dan sumber devisa negara namun, kenapa pemerintah banyak bergerak di bidang perdagangan dan industri manufaktur? Anehnya kehidupan petani di perdesaan dan kehidupan nelayan di pesisir identik dengan pandangan ketertinggalan dan tidak modren.  Petani hanya berkecimpung dengan alat – alat pertanian yang tradisional dan hidup di bawah garis kemiskinan.

Selain dari puisi Rendra sebagian dari kita tentu masih ingat  lagu yang berjudul “ perahu retak “ Franky Sahuluta, pencipta lagu ini mengibaratkan Indonesia seperti perahu. Diatasnya menumpang rakyat Indonesia dari beragam suku, agama, dan adat – istiadat. Namun yang dikhawatirkan adalah dinding perahu retak, tanah yang subur tak lagi menumbuhkan kebahagian. 

Sawah-sawah juga tak lagi menerbitkan kesejahteraan. Disana – sini muncul  perpecahan deksriminasi, dan ketimpagan, perahu negeri dibajak oleh segelintir elit  peguasa. Sementara mayoritas rakyat terancam terbuang. Dulu kita berperang membebaskan  diri dari penjajahan bangsa lain, tetapi kini berusaha terbebas dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan pengaruh asing yang berdampak negatif. 

Saat ini  kita tidak  dapat berdaulat ditanah air sendiri rakyat menjerit akan  harga kebutuhan hidup yang melonjak, tapi tak berbanding lurus dengan penghasilan.  Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA, namun kenapa masih ada impor pangan dari negara lain?  bukankah Indonesia negara agraris dengan tanah yang subur. 

Contoh sederhana  ketika negara ini menjual  barang mentah ke negara lain dengan harga murah dan membeli kembali dengan harga yang relatif lebih mahal, aset negara banyak di kuasai asing  seperti pertambangan, semen, bahkan tekstil. siapa yang patut di salahkan? SDM kita yang katanya belum cakap, teknologi yang masih terbatas. 

Bukan Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi hanya kekurangan peran pemimpin yang peduli  terhadap nasib bangsa.Terjadilah apa yang dikhwatirkan oleh Franky : satu kenyang, seribu kelaparan.   Dan Fondasi pengikat ini adalah pancasila dan UUD 1945, telah dicampakkan oleh para penyelengara negara. 

Bagaimana sastra masa kini 

Masyarakat hari ini masih membutuhkan angin segar sastra progresif di tengah gempuran kapitalisme dan permasalahan ekonomi yang tak kunjung usai. Kita lebih banyak  terjebak dalam pengkultusan budaya yang dibawa kapitalisme. Para pejuang yang mendambakan kebudayaan yang progresif harus melakukan evaluasi terhadap gerakan sastra yang dibuatnya.

 Sebab sudah selayaknya  sastra dikembalikan pada titahnya, yakni tidak dipisahkan dari realitas yang membentuk masyarakat hari ini.  Sastra bukan untuk melayani pemilik modal dan tenaga pendorong pasar, namun lebih dari itu, turut adil dalam perubahan sosial. Ada hal yang patut kita perhatikan, yaitu  bagaimana mendeksipsikan rakyat Indonesia yang sebagian besar menjaga asap dapur tetap mengepul, melalui sastra.

 Rupanya kita butuh sosok seperti W. S Rendra, Wiji Thukul Franky Sahuluta karena kita merindukan sastra yang mengugah kesadaran. Singkatnya , sastra mesti dijadikan sebagai senjata perlawanan sekaligus penerang keadaan. Sastra hari ini dituntut untuk memunculkan peranan ditengah ancaman persatuan, akutnya sebaran kebencian, serta terancammya sikap tenggang rasa dan toleransi di  Indonesia. 






Related Posts
egip satria eka putra
Suka mengoleksi buku dan menulis. Mengoleksinya saja, sedang membacanya tidak.

Related Posts

Post a Comment