-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Angka Kenaikan Korban Positif Covid-19 Palsu: Data Naik, Faktanya Menurun


Oleh: Sevenri Harianja

Disclaimer: Berikut merupakan opini penulis, bukan berdasarkan fakta real dilapangan, tetap waspada dan ikuti aturan PSBB yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Selamat membaca. 

Ada dua kemungkinan mengenai kenaikan angka korban positif Covid-19.

Pertama, pemerintah mengurangi angka sebenarnya yang ada di lapangan demi menjaga image di mata masyarakat.

Kedua, pemerintah menambahi angka sebenarnya yang terjadi di lapangan demi menjaga kewaspadaan masyarakat terhadap wabah Covid-19 dan tetap melaksanakan PSBB dengan tertib.

Berikut kita bahas satu persatu.

1. Pemerintah mengurangi angka sebenarnya yang terjadi di lapangan.

Jika diperhatikan data dalam sepekan terakhir, angka kenaikan korban positif maupun meninggal akibat Covid-19 setiap harinya mengalami peningkatan. Terakhir per 9 Mei bisa dilihat di update Covid-19

Melihat data di atas, mustahil rasanya sampai sejauh ini Indonesia per 9 Mei hanya menempuh angka 13.645 yang positif Covid-19.

Padahal jika dilihat dalam kehidupan sehari-hari, kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya Covid-19 sangatlah minim.

Bagaimana tidak!

Setiap harinya penulis memerhatikan, walaupun pemerintah telah menggiatkan PSBB semenjak tanggal 10 April 2020 masih banyak saja masyarakat yang berkeliaran dan enggan menggunakan masker jika hendak keluar dari rumah.

Masih banyak anak-anak remaja yang berkeliaran dengan sepeda motor, bahkan berboncengan kemana-mana tanpa memikirkan aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Bukan hanya masyarakat, banyak juga perusahaan-perusahaan yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah tersebut.

Masih banyak perusahaan yang tidak mau rugi akibat wabah ini.

Perusahaan-perusahaan tersebut masih tetap melakukan produksi secara diam-diam agar tetap mendapatkan keuntungan serta bisa membayarkan gaji-gaji karyawannya di tengah pandemi ini.

Bergeser ke fasilitas angkutan umum.

Walaupun pemerintah telah menerapkan PSBB dan melarang angkutan umum membawa penumpang penuh namun nyatanya dilapangan aturan itu seakan tidak pernah ada.

Aturan tersebut hanya mitos belaka.

Yang ada, angkutan-angkutan umum masih membawa penumpang dengan jumlah penuh.

Jadi hal yang lumrah bukan, jika sebenarnya angka korban positif Covid-19 penulis perkiraan jauh di atas angka yang diberitakan media elektronik maupun media cetak kepada khalayak masyarakat.

Bisa jadi pemerintah hanya menjaga image dan bertujuan mengurangi rasa paranoid berlebihan di tengah masyarakat yang bisa menimbulkan keresahan membludak sehingga menimbulkan masalah baru.

Nah, untuk kemungkinan kedua, berikut penulis jelaskan.

2. Pemerintah menaikkan data pemberitaan sementara dilapangan sudah menurun.

Pada kasus ini, penulis berpendapat bahwa sebenarnya data dilapangan akan korban positif maupun meninggal akibat Covid-19 sebenarnya sudah menurun.

Namun kenapa pemerintah tetap memberitakan angka korban positif Covid-19 yang semakin hari semakin naik?

Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tetap waspada dan mengikuti aturan PSBB yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Mengapa penulis mengatakan demikian?

Karena aneh jika Menteri Perhubungan Indonesia telah berani membuka kembali moda angkutan umum, baik darat, laut, maupun udara yang dimulai pada tanggal 7 Mei 2020, sementara angka dilapangan masih tinggi dan terus meningkat.

Apakah Kemenhub menganggap bahaya Covid-19 sebecanda itu?

Apakah Pemerintah Indonesia senekat itu?

Lantas untuk apa PSBB, himbauan WFH, himbauan tidak boleh mudik, tagar #dirumahaja, jika pemerintah sudah senekat itu?

Lain lagi, rencana pemulian ekonomi yang telah bersebar luas, lihat di Rencana pemulihan ekonomi Indonesia
sementara angka korban positif dan angka kematian di Indonesia masih terus naik dari hari ke hari sesuai pemberitaan dari pemerintah.

Sebagai contoh besar, China yang sebelumnya dikabarkan sudah bersih dari Covid-19, mencoba membuka lockdown dan hasilnya kembali mengalami masalah yang sama.

China kembali diserang oleh kejamnya pandemi Covid-19.

Lantas, apakah hal tersebut tidak bisa dijadikan oleh pemerintah sebagai pembelajaran?

Negara yang sebelumnya sudah dinyatakan bersih saja bisa diserang kembali dan memakan korban jiwa kembali.

Bagaimana dengan negara yang masih mengalami peningkatan angka positif dan kematian setiap harinya?

Indonesia!

Apakah ini artinya Indonesia mengangkat bendera putih pada pandemi Covid-19?

Atau pemerintah Indonesia lebih takut keadaan ekonominya anjlok, hancur ditinggalkan negara lain dibanding nyawa rakyatnya yang setiap harinya melayang begitu saja?

Semoga saja tidak.

Sekali lagi, apapun itu faktanya.

Tetap lakukan anjuran PSBB ya sob.

Salam pejuang Covid-19. 

Related Posts
@sevencorner
Estoy hablando por escrito! Mulutku bungkam, jemariku bicara!

Related Posts

Post a Comment