-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Carmel Budiardjo, Pendiri Organisasi Tahanan Politik Tutup Usia

Carmel Budiardjo, Pendiri Organisasi Tahanan Politik Tutup Usia 

Seruan.id - Carmel Budiardjo, pendiri organisasi Tahanan Politik (TAPOL) meninggal dunia di London, Inggris dalam usia 96 tahun. Semasa hidupnya dia aktif mengadvokasi berbagai isu pelanggaran HAM berat di Indonesia, seperti kasus 1965, kasus Timor Leste, Papua dan Aceh.

Beliau meninggal pada Sabtu (10/7/2021) sekitar pukul 09.00 waktu London. Informasi ini disampaikan twitter TAPOL, “dengan sangat sedih, kami umumkan meninggalnya Carmel Budiardjo, pendiri kami, Sabtu pagi ini pukul 9 pagi.”

Mantan Petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Munawar Liza, menyampaikan belasungkawa khusus atas meninggalnya Carmel. “Kami turut berduka, terima kasih atas jasa yang tidak terhingga kepada Aceh,” katanya kepada acehkini, Minggu (11/7/2021).

Munawar Liza membagi kenangannya dengan Carmel semasa konflik Aceh. Pada tahun 2000, aktivis HAM asal Aceh Jakfar Sidik Hamzah, baru pulang ke Aceh dari Amerika Serikat. Salah satu agendanya adalah menggalang dukungan kepada SCHRA atau Support Committee for Human Rights in Aceh yang dicetuskan oleh beberapa NGO, dalam sebuah pertemuan internasional di Bangkok pada 1999.

Pada sebuah pertemuan di Hotel Cakradonya, Banda Aceh untuk diskusi terkait SCHRA, Jakfar mengundang Munawar Liza. Saat itulah Jakfar mengenalkan beberapa temannya, salah satunya Carmel Budiardjo.

Inilah pertemuan pertama dengan Ibu Carmel, pendiri TAPOL bermarkas di London yang memperjuangkan perdamaian, demokrasi, dan penegakan HAM di Indonesia. Ibu Carmel juga salah seorang pendiri SCHRA,” jelas Munawar Liza.

Menurutnya, Carmel dengan TAPOL-nya secara konsisten memperjuangkan penegakan HAM di Timor, Papua, dan Aceh selama puluhan tahun.

Beberapa hari setelah pertemuan ini, mereka dikejutkan kabar dari keluarga, bahwa Jakfar hilang diculik, pada 5 Agustus 2000. Mayatnya ditemukan kemudian dengan bekas siksaan berat.

Sejak itu, Munawar Liza meninggalkan Aceh. “Komunikasi dengan ibu Carmel tidak pernah terputus, baik di masa pelarian dan masa di pengasingan,” jelasnya.
Related Posts
egip satria eka putra
Suka mengoleksi buku dan menulis. Mengoleksinya saja, sedang membacanya tidak.

Related Posts

Post a Comment