-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Minang, Dilthey, Gaddamer dan Horizon Filsafat

Minang, Dilthey, Gaddamer dan Horizon Filsafat 

Muhammad Irsyad Suardi, Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND

Seruan Mahasiswa - Orang Minang yang ABS-SBK (Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah) merupakan lahir dari keturunan perantau. Orang Minang yang jumlahnya beberapa persen dari penduduk Indonesia bisa dikenal karena beberapa tokoh nasional jaman kemerdekaan berperan dalam memerdekakan Republik Indonesia. 

Seperti salah satu Founding Fathers Republik Indonesia Muhammad Hatta (Wapres RI Pertama), Sutan Syahrir (Perdana Menteri Pertama) dan beberapa tokoh Minang lain.

Melihat suatu tokoh dalam penghayatan melalui kacamata sosial-historis. Dan, dalam kajian filsafat, dalam dunia sosial-historis, merubah suatu kebiasaan menjadi kebiasaan umum. Kebiasaan mayoritas bangsa Indonesia. 

Melalui Horizon Filsafat Dilthey dan Gaddamer dengan cara masuk ke mental pengarang. Melalui akses penghayatan, menurut Friedrich Ast (1778-1841), menangkap Roh merupakan tugas utama Hermeneutik. Ast mengandaikan adanya akal budi bersama umat manusia. Dan keseluruhan pemikiran bersama, didapat dalam akal budi individu secara kolektif. 

Dalam budaya Yunani dan Romawi Kuno, disebut roh rakyat atau bahasa Jermannya Volkgeist. Roh rakyat adalah berbagai aspek mental-budaya, seperti; tata nilai, moralitas, alam pikir dan penghayatan. Sedangkan, menurut Hegel meng-istilahkan dengan ruang roh objektif (Objektif Geist).

Metode Verstehen (memahami) secara alamiah berkembang apalagi terhubung dengan pengetahuan-imajinasi seluler. Nacherleben menyebutkan dengan “mengalami kembali pengalaman” yang telah lalu. Subjek penelitiannya melalukan interpretasi.

Menurut Friedriech Agust Wolf (1759-1824) menjelaskan, interpretasi adalah sebuah dialog dengan penulis dengan cara menempatkan diri dalam situasi penulis (memasuki dunia mental penulis). Secara umum semua penjelasan disebut mengakses penghayatan.

Horizon

Karya George Ritzer, menggabungkan beberapa pandangan sosiolog tentang kehidupan lapis bawah masyarakat dalam perspektif masyarakat terhadap pemerintahan yang berkuasa. Kacamata sosiologi mencari celah dimana kelemahan pemerintah melihat sisi yang tidak bisa dijangkau penguasa, sehingga masyarakat lapis bawah dapat melebarkan celah kedalam bahasa semantic menjadi suatu senjata.

Dalam melihat kekurangan pemerintah dalam menjalankan peran sebagai actor utama guna mengelola Negara dan masyarakat. Hermeneutika Scheleimder, dan beberapa filsuf menjelaskan dalam satu fusi (Horizonversmelzung) atau horizon-cakrawala berpikir memberi makna dualitas dalam mencirikan besar/kecil kapasitas manusia.

Dalam membaca buku, membaca alam dan memahami hal sekitar. Merubah karakter, ketika manusia saling bertemu, terlihat dari tradisi sejarah belajar. Contoh, horizon (cakrawala berpikir) orang Minang dengan orang Batak yang berbeda dan dinamis. Maka, performance dalam membentuk horizon melalui sikap objektif. 

Tradisi, otoritas dan ajaran-ajaran yang diambil menjadi perluasan kemampuan seseorang terhadap memahami lingkungan sekitar. Fakta itu dibantah oleh Gaddamer, sebuah tradisi menghilangkan prasangka tidak mungkin. Seperti otoritas yang harus menilai objektif padahal sisi lain mengandung makna subjektif. 

Masing-masing punya otoritas dan tradisi yang berbeda-beda, yang penting adalah setiap kelompok orang mencari sesuatu sesuai tujuan yang ingin didapatkan. Herbert Spencer, August Comte, membawa pengetahuan lama ke konteks kekinian. Istilah lain dalam melihat makna terselip didalam mental pengarang disebut Wirkungsgeschichte (Sejarah Pengaruh). 

Pengetahuan didapat dari orangtua dan faktor sekitar merupakan sejarah pengaruh yang tersosialisasi dari kecil. Hidup adalah sebuah sejarah yang dipengaruhi oleh otoritas dan tradisi. Tradisi panjang tentang berpakaian ribuan tahun silam, otoritas dan tradisi bukan sebentar dibentuk tapi dibangun lama.
 
Masuk dalam sejarah pemikiran dan sejarah pengaruh, mulai dari Spencer dan ahli lain sampai holistik, horizon dan ujung pengetahuan. Sebagai peneliti, interpretasi masuk sebagai mental pengarang, seperti kata Dilthey masuk interpretasi dalam kehidupan bersama manusia lain.
 
Ditargetkan masuk dalam dunia sosial-historis. Seperti tradisi makan sirih, dan tradisi adat lain. Adu ayam dibali sebagai budaya. Weber masuk ke mental si pengarang sehingga menjadikan seseorang menjadi menerawang. Proses menjadi orang Bali dan sudah menjiwai, namun dalam makna masyarakat Bali artinya melambangkan seorang Laki-laki jantan.

Mekanisme kontrol jika tidak sepaham dengan orang Bali. Dilthey katanya, mesti masuk ke dunia Sosial-Historis yang menjadi ilmu sosial-kemanusiaan. Sedangkan Gaddamer, tidak bisa dengan cara meninggalkan saja, Dia sudah mengakar dalam diri. Karena di Horizon mereka tersebut lumrah. Tidak meninggalkan Horizon dengan mencoba mencari pertemuan dengan memahami lebih bijak.

Wajar saja jika Dilthey mengatakan bahwa Gaddamer dan filsuf lainnya memiliki rentan pengetahuan terhadap asumsi yang bertautan terhadap fakta teori yang pernah dibuat. Seseorang atau individu tidak begitu saja dapat meng-horizon diri secara terbuka, individu mesti bertahap dalam mengambil setiap kejadian yang dialami bukan sekali tancap yang semua dapat dimengerti dan dipahami.

Jadi, konsep kunci Hermeneutik Dilthey dalam satu kesimpulan menerangkan bahwa dalam dunia sosial-historis yang merupakan produk cultural mesti local content sebagai identitas individu yang selalu melekat. Bersifat lokal, budaya lokal dan geografi lokal merupakan cikal dari lahirnya suatu peradaban.

Seluruh produk kebudayaan terdapat beberapa ungkapan kehidupan (LebensauBerungen) yang terbagi dalam tiga aspek; pertama, Ide yang merupakan konsep dari penilaian hasil identitas dan system berpikir. Kedua, tindakan. Dan ketiga, adalah ungkapan yang menjiwai karakter individu dalam memainkan peran seni, tari dan seluruh ekspresi yang bisa digambarkan  oleh pengalaman hidup seorang individu.

Ketiga aspek itu, mesti berupa ekspresi ungkapan objektifikasi (Ausdruck), memahami (Verstehen), pemahaman utuh (Verstandis), Pengalaman (Erfahrung) dan Penghayatan mendalam (Erlebnis).
Related Posts
@sevencorner
Estoy hablando por escrito! Mulutku bungkam, jemariku bicara!

Related Posts

Post a Comment