-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

PT. Garuda Indonesia (Persero) di Tengah Pandemi Covid -19

(Gambar: bumn.go.id)

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda indonesia memberikan dampak yang buruk salah satunya terhadap PT. Garuda Indonesia (Persero). Akibat wabah ini, PT. Garuda Indonesia (Persero) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada sejumlah pilot, khususnya yang berstatus kontrak. Ada 150 pilot berstatus kontrak yang akan menjadi korban efisiensi maskapai dari maskapai ini.

Kementerian BUMN angkat bicara terkait hal ini di Jakarta, senin (1/6/2020), "Ini untuk garuda saja yang terikat kontrak sekitar 150, itu rata rata captain semua. Mulai 1 Juni 2020 pilot sudah tidak bekerja lagi dan mereka sudah diberitahukan terkait hal ini." ujarnya.

Keputusan ini diambil akibat dampak dari COVID-19 terhadap industri penerbangan tanah air. Pademi Corona awalnya menghantam sektor parawisata nasional yang kemudian berlanjut ke industri penerbangan.

Kementrian BUMN pun memprediksi bahwa keputusan PHK kepada pilot Garuda akan terus bertambah, setidaknya ada sekitar 700 pilot termasuk yang status pegawai tetap akan terkena. "Kita memperediksi kemungkinan di Garuda akan terjadi pengurangan sampai 700 Pilot." Ujarnya.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pihaknya menyerahkan hal tersebut kepada manajemen. Dia meminta maskapai ini untuk menghitung dampak corona, baik dari sisi bisnis maupun efisiensi yang dilakukan. Menurutnya, Garuda punya sejumlah pilihan, termasuk pilihan yang sulit untuk ditempuh manajemen. "Kita serahkan  kepada Manajemen Garuda untuk menghitung dampak dari corona, konsekuensi terhadap bisnisnya termasuk efisiensi-efisiensi yang dilakukan supaya Garuda tetap bisa bertahan dan bisa beroperasi. Pasti mereka punya pilihan-pilihan, kita tahu pilihan-pilihan yang sulit" katanya dalam teleconference, Selasa (2/6/2020). "Dan apapun keputusan yang diambil pasti sudah diperhitungkan secara matang" ujarnya.
Related Posts
Friska Sembiring
Friska Sembiring (Ekonomi pembangunan, Universitas Andalas)

Related Posts

Post a Comment