-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Penelitian: Remdesivir Percepat Pemulihan Pasien Covid-19

(Gambar: wbtw.com)

Kabar baik datang di tengah perang melawan Covid-19. Kabar baik itu diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine. Remdesivir, obat anti virus yang awalnya dikembangkan sebagai untuk pengobatan potensial untuk Ebola, telah terbukti untuk mempersingkat waktu pemulihan bagi pasien yang terinfeksi coronavirus. Pada akhir April, hasil awal dari uji klinis fase 3 ini menyarankan bahwa remdesivir mungkin bernilai dalam mengobati pasien COVID-19. Ini bukan obat, tetapi untuk mempersingkat waktu pemulihan dari yang awalnya rata-rata 15 hari, menjadi 11 hari.

Percobaan dilakukan dengan melibatkan 1.059 pasien COVID-19 di 60 lokasi berbeda di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. 538 pasien diobati dengan remdesivir selama 10 hari dan 521 pasien lainnya diberikan plasebo dengan jadwal yang sama. Para pasien dinilai setiap hari, baik untuk menentukan tingkat keparahan gejala mereka maupun efek samping yang dapat disebabkan oleh obat, yang mengganggu kemampuan virus untuk menyalin RNA-nya.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa pengobatan dengan remdesivir mempersingkat waktu pasien untuk segera pulih dibandingkan dengan plasebo, dari rata-rata waktu pemulihan selama 15 hari menjadi 11 hari. Terlebih lagi, data ini membantah kekhawatiran bahwa remdesivir harus diberikan sangat awal setelah timbulnya gejala. Faktanya, peserta yang memasuki uji coba lebih dari 10 hari setelah timbulnya gejala benar-benar menunjukkan respon yang lebih baik terhadap remdesivir dibandingkan mereka yang mulai diobati selama 10 hari pertama.

Hasil sekunder utama uji coba tersebut juga menunjukkan bahwa total kematian yang lebih rendah dengan remdesivir dibandingkan plasebo (21:28) pada saat ini, walaupun perbedaan itu tidak signifikan secara statistik.

Para peneliti mencatat bahwa pengobatan remdesivir tidaklah cukup saat ini, jadi penelitian yang menggabungkan pengobatan dengan terapi lain harus tetap dieksplorasi. Tetapi dibandingkan dengan penelitian lain baru-baru ini terkait efek hydroxychlorquine pada COVID-19 yang menunjukkan bahwa obat tersebut menyebabkan peningkatan kematian yang nyata, penemuan terbaru ini harus dianggap sebagai keberhasilan.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment