-->
Y0eWGYxzpXyCEdgWdcCCd1ut8uzRgXO9EmGhgceU
Theme images by Igniel

Search This Blog

Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional. Mustahil!

Oleh: Sevenri Harianja, Demisioner KBSI USU 2017/2018(Keluarga Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara)

Bahasa Indonesia sebenarnya tidak ketinggalan dari bahasa lainnya. 

Jika dibandingkan dengan Bahasa Inggris yang saat ini diakui oleh seluruh bangsa-bangsa di dunia sebagai bahasa pengantar Internasional, Bahasa Indonesia sendiri tidak kalah komplet, justru Bahasa Indonesia sendiri memiliki kosa-kasa jauh lebih lebih kaya dibandingkan Bahasa Inggris.

Sebagai contoh sederhana, bisa kita lihat dari kata paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, yakni beras.

Jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris maka akan menjadi rice.

Padahal jika diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Indonesia, maka rice akan memiliki beberapa makna, yakni seperti: beras, nasi.

Contoh sederhana lain, misalnya aku.

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris maka akan menjadi I (subjek), Me (objek).

Jika diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Indonesia maka I (as subjek) saja sudah memiliki banyak arti, seperti: Aku, saya (seluruh Indonesia), gue, awak (nonformal, digunakan di beberapa daerah di Indonesia).

Selain kekayaan kosa-kata, Bahasa Indonesia memiliki kelebihan lain dibanding Bahasa Inggris, yakni: tidak mengenal tenses, otomatis predikat (kata kerja) yang dipakai tidak mengalami perubahan sesuai waktu penggunaannya, sehingga Bahasa Indonesia akan lebih mudah untuk dipahami sekaligus dipelajari oleh warga negara asing.

Dimana dalam Bahasa Inggris kita kenal tenses dengan rumus-rumus penggunaanya yang harus kita terapkan pada setiap kalimat yang akan kita ungkapkan. Jika tenses yang kita gunakan salah, maka akan mempengaruhi makna, bahkan mengubah makna.

Hal tersebut bisa menciptakan kesalahan komunisasi antar pribadi yang sedang berbicara, tentunya kita tidak menginginkan hal itu bukan?

Lantas kenapa Bahasa Indonesia tidak pernah go internasional padahal sudah kurang lebih 75 tahun Bahasa Indonesia disumpahkan oleh pemuda Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus bahasa nasional?

Padahal sudah beberapa kali ahli Bahasa Indonesia dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengklaim bahwa Bahasa Indonesia sudah memenuhi sebagian besar syarat menjadi bahasa internasional.

Dikutip dari CCN Indonesia: Dadang Sunandar selaku Kepala Badan Bahasa dan Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia, menanggapi keinginan Mendikbud Nadiem Makarim menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Asia Tenggara.

Pertama, penutur Bahasa Indonesia itu banyak. Angkanya lebih dari 30 juta penutur dan bukan hanya di Indonesia tapi di negara lain, mungkin dengan dialek berbeda.” Ujarnya di Kemendikbud.

Selanjutnya, Dadang juga mengatakan Bahasa Indonesia termasuk salah satu bahasa yang sebenarnya mudah dipelajari oleh orang asing. Untuk itu, dalam waktu tiga bulan belakangan ini, pihaknya sudah mengirim 793 pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) ke 29 negara.

Nadiem sebelumnya mengatakan target Badan Pengembangan dan Pembinaa Bahasa Kemendikbud adalah menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Asia Tenggara.

Enggak tahu apa ini bisa tercapai, tapi kita harus punya mimpi yang besar,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI.

“Kita harus punya mimpi besar” katanya!

Ya, Bahasa Indonesia menuju bahasa internasional, Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara, Bahasa Indonesia go internasional atau apapun itu yang menjadi mimpi besar kita.

Semuanya akan tetap menjadi mimpi besar kita.

Nyatanya bahasa Indonesia tidak akan pernah go internasional, tidak akan pernah menjadi bahasa pengantar di Asia tenggara, apalagi menjadi bahasa internasional yang digunakan oleh seluruh bangsa-bangsa di segala penjuru benua.

Bagaimana tidak?

Penutur asli Bahasa Indonesia sendiri masih menyepelekan Bahasa Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih keep mindset bahwa anak yang mendapat nilai Bahasa Indonesia tinggi dan nilai Matematika rendah itu bodoh, namun sebaliknya saat anak mendapat nilai Matematika tinggi dan nilai Bahasa Indonesia rendah dianggap tidak ada masalah.

Begitulah gambaran saat seorang anak duduk di bangku sekolah, baik itu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan.

Meningkat sedikit ke bangku perkuliahan, dimana saat seseorang mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pendidikan maupun non pendidikan di bangku perkuliahan, maka akan banyak kata-kata meremehkan yang akan muncul ke telinga mereka selama duduk di kursi kampus hingga mereka lulus dan mencari pekerjaan.

“Lah, untuk apalah kau kuliah Bahasa Indonesia? Bukannya setiap hari kau pakai Bahasa Indonesia?” 

“Untuk apalah kau kuliah jurusan Bahasa Indonesia? Yang enggak bagusnya nilainya waktu pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD?”

Untuk apalah kau kuliah Bahasa Indonesia? Mana ada nanti perusahaan yang mau menerima kerja?” katanya ringan tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.

Jika dengan mengunakan Bahasa Indonesia setiap hari saja, seluruh elemen masyarakat Indonesia bisa pandai Bahasa dan Sastra Indonesia.

Lantas mengapa masih banyak pejabat tinggi Indonesia yang menggunakan bahasa yang tidak kompeten saat berpidato di hadapan publik?

Lantas mengapa masih banyak tayangan sastra busuk di dunia televisi Indonesia? Sinetron dengan beribu-ribu judul namun dengan thema, penokohan, alur, latar, hingga ending cerita yang persis sama, busuk bukan?

Seharusnya kita mencontoh negara-negara maju, khususnya negara-negara maju di bagian industri perfilman.

Bagaimana mereka menghargai bahasa dan sastra yang mereka miliki, layaknya menghargai Bahasawan, Seniman dan Sastrawan yang mereka miliki.

Sebagian besar negara-negara di Eropa dan Amerika melakukan hal demikian, oleh karena itu kita bisa melihat sendiri bagaimana kemajuan bahasa, sastra, dan industri film mereka di mata anak-anak kita, anak-anak muda, bahkan mata dunia.

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, novel dan karya sastra mereka yang selalu best seller, dan film hasil besutan mereka yang selalu mendapat antrian panjang di bioskop-bioskop yang ada di seluruh kota-kota di Indonesia, mari bandingkan dengan film hasil industri negara kita (banyak yang tidak balik modal/ baca: https://www.google.com/amp/s/www.kincir.com/amp/movie/cinema/film-indonesia-mahal-sepi-penonton

Tidak perlu jauh ke Eropa atau Amerika, mari kita lihat bagaimana perkembangan dunia sastra dan perfilman Korea Selatan, China, dan Thailand sebagai perwakilan Asia di mata dunia.

Dalam keseharian, penulis melihat bagaimana para remaja perempuan dan laki-laki Indonesia mengidolakan para aktor/aktris peran dari negara-negara tersebut, bahkan bahasa dari negara-negara tersebut di atas sudah tidak asing di telinga penulis.

Lantas, apa kabar Indonesia?

Ayolah. Cukup sampai disana meremehkan bahasa sastra Indonesia.

Sudah saatnya kita bergerak dan keluar dari yang namanya sekedar mimpi besar membawa Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional, sebagai bahasa pengantar di Asia Tenggara, atau apalah itu.

Sudah saatnya kita take care & action.

Memperbaiki cara kita memandang dan menggunakan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Menerapkan standart penguasaan Bahasa Indonesia saat hendak melamar pekerjaan, bukan hanya TOEFL, IELTS, TOEIC, ataupun bahasa Mandarin sebagai syarat melamar pekerjaan.

Satu lagi!

Untuk memperbaiki kualitas Bahasa dan Sastra Indonesia, sudah saatnya pemerintah menempatkan para lulusan Bahasa dan Sastra Indonesia di setiap lembaga atau instansi yang ada di Indonesia sebagai pemerhati bahasa di instansi tersebut.

Jangan membiarkan mereka bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan bidang mereka lalu membiarkan orang-orang yang tidak mengerti bahasa maupun sastra Indonesia mengerjakan apapun yang berhubungan dengan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Itu namanya pemaksaan, alhasil pidato yang tidak berbobot akan terus-menerus muncul dan menghantui masyarakat Indonesia, sastra busuk akan terus menghiasi industri perfilman Indonesia.
Related Posts
@sevencorner
Estoy hablando por escrito! Mulutku bungkam, jemariku bicara!

Related Posts

Post a Comment